hadist

عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّاد ابْنُ أَوْسٍ رَضِيَ الله عَنْه عَن رَسُولِ الله ﷺ قال: إنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوْا القِتْلَةَ وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة وليحد أحدكم شفرته وليرح ذبيحته (رواه مسلم) Hadits ini menunjukkan bahwa Islam menekankan pentingnya etika bahkan dalam tindakan yang secara alami bersifat menyakitkan atau keras. Ketika seseorang harus membunuh dalam konteks peperangan atau menyembelih hewan untuk dimakan, maka tindakan tersebut tetap harus dilakukan dengan cara yang paling baik, tidak menyiksa dan tidak menimbulkan penderitaan yang tidak perlu bagi makhluk yang dilibatkan. Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya menajamkan pisau dan membuat nyaman hewan sembelihan, yang secara langsung menggambarkan betapa Islam memperhatikan hak-hak dan perasaan makhluk lain, termasuk hewan. Perikemakhlukan: Menyadari Diri Sebagai Makhluk Konsep perikemakhlukan adalah konsep yang menggambarkan kesadaran manusia akan dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah ﷻ. Kesadaran ini mencakup pemahaman bahwa manusia tidak hidup sendiri dan tidak memiliki kuasa mutlak atas apa pun, tetapi ia adalah bagian dari sistem ciptaan yang luas di bawah kekuasaan Tuhan. Kesadaran ini sangat penting dalam membentuk karakter dan perilaku manusia yang penuh rasa tanggung jawab, kasih sayang, dan kepedulian terhadap makhluk lain. Dalam konteks hadits ini, kesadaran perikemakhlukan mendorong manusia untuk tidak bertindak semena-mena terhadap makhluk lain. Meskipun manusia diberi kelebihan berupa akal dan kedudukan sebagai khalifah di bumi, bukan berarti manusia bebas melakukan apa saja terhadap makhluk lain. Manusia tetap memiliki tanggung jawab moral untuk memperlakukan makhluk lain dengan baik, tidak menyiksa, dan tidak merusak. Jika seseorang menyadari bahwa hewan yang disembelih adalah ciptaan Allah ﷻ sebagaimana dirinya, maka ia tidak akan bersikap kasar atau kejam. Ia akan memperlakukan hewan itu dengan penuh kasih dan adab, karena ia sadar bahwa semua makhluk memiliki kedudukan dan fungsi dalam kehidupan ini. Etika Islam terhadap Hewan dan Lingkungan Islam mengajarkan banyak prinsip etika dalam memperlakukan hewan. Rasulullah ﷺ pernah menegur orang yang menyiksa hewan, bahkan menyampaikan bahwa seorang wanita bisa masuk neraka karena menyiksa seekor kucing, dan sebaliknya, seorang pelacur bisa masuk surga karena menolong seekor anjing yang kehausan. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, makhluk hidup selain manusia juga memiliki hak, dan manusia harus memperlakukannya dengan baik. Selain terhadap hewan, Islam juga menekankan pentingnya menjaga lingkungan. Dalam Al-Qur’an dan hadits banyak disebutkan tentang larangan merusak bumi, membuang-buang air, dan memanfaatkan alam secara berlebihan. Semua ini merupakan bentuk tanggung jawab perikemakhlukan manusia sebagai makhluk yang diberi amanah, bukan sebagai penguasa yang bisa bertindak sewenang-wenang. Refleksi Sosial dan Relevansi Kontemporer Di era modern ini, krisis moral terhadap makhluk hidup sangat terasa. Manusia cenderung menjadikan alam dan hewan sebagai objek eksploitasi demi keuntungan ekonomi. Banyak praktik peternakan dan pembunuhan hewan yang dilakukan secara kejam dan tidak manusiawi. Begitu juga dengan perusakan hutan, pencemaran sungai, dan pemusnahan spesies makhluk hidup lain yang dilakukan atas nama pembangunan. Dalam konteks ini, Hadits di atas seharusnya menjadi refleksi bagi umat manusia, khususnya umat Islam. Hadits ini mengingatkan bahwa keberadaban manusia bukan hanya diukur dari hubungan sosial dan kecanggihan teknologi, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan makhluk lain yang lebih lemah. Semakin tinggi kesadaran seseorang akan dirinya sebagai makhluk, semakin tinggi pula nilai kemanusiaannya. Hadits ini menyampaikan pesan yang sederhana namun sangat mendalam: berbuat baiklah kepada semua makhluk, bahkan dalam tindakan yang tampak keras sekalipun. Pesan ini tidak hanya menyentuh sisi hukum fiqih, tetapi juga mengandung nilai-nilai etika, akhlak, dan spiritualitas yang tinggi. Di balik perintah untuk menajamkan pisau dan membuat nyaman hewan sembelihan, tersimpan ajaran tentang kelembutan, kasih sayang, dan tanggung jawab moral sebagai sesama makhluk Allah ﷻ. Melalui kesadaran perikemakhlukan, manusia diajak untuk menempatkan dirinya dalam tatanan ciptaan Allah yang luas. Ia bukan pemilik alam, bukan pula penguasa absolut atas makhluk lain, melainkan hamba yang dititipi amanah untuk memelihara, menjaga, dan memperlakukan semua ciptaan dengan penuh rahmat. Jika nilai ini dihidupkan, maka dunia akan menjadi tempat yang lebih damai, adil, dan manusiawi bagi semua makhluk.

Komentar

[ Kembali ]

`