
Paradigma Ro’an di Pesantren; Antara Eksploitasi atau Edukasi?
Potret kehidupan santri di pondok pesantren akan terus menarik untuk dibahas. Mulai dari kegiatan belajar, mengaji, wiridan, shalat berjamaah, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Tidak hanya sampai disitu, kehidupan santri juga tidak bisa lepas dari kegiatan non formal, seperti ro'an , ngeliwet bareng, bal-balan dan lain sebagainya. Kegiatan formal dan non formal di setiap pondok pesantren akan memiliki ruang khusus dalam memori masing-masing santri. Bahkan sampai menyandang gelar alumni pun, potret kehidupan santri di pesantren akan terus menjadi pembahasan yang tidak ada intinya.
Pesantren merupakan salah satu institusi yang unik, karena memiliki ciri khas yang begitu kuat dan melekat, dimana memiliki peran untuk mencerdaskan generasi bangsa dengan sanad turun temurun tanpa henti. Lahirnya pesantren, memberikan warna baru dalam pendidikan di Indonesia. Pendidikan di pesantren dimulai sejak zaman perjuangan melawan para kolonial dan tetap bertahan sampai masa kini. Kehadiran pesantren akan tetap dibutuhkan dalam mencetak generasi pemimpin yang unggul dalam bidang akademik dan berjiwa religius.
Pesantren merupakan miniatur dari sebuah kehidupan bermasyarakat, dimana di dalamnya terdapat beragam aturan yang harus ditaati, layaknya aturan yang berlaku di masyarakat. Proses pembentukan karakter di pesantren berdasarkan metode pembiasaan, dimana nantinya akan diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari para santri. Karakter sosial yang sudah terbentuk selama di pesantren, nantinya akan menjadi bekal para santri saat terjun langsung dalam kehidupan bermasyarakat.
Pendidikan di pesantren memang sangatlah kompleks, terutama dalam menumbuhkan karakter religius yang menjadi ciri khas pembelajaran di pesantren. Pendidikan karakter religius di pesantren akan mengantarkan pribadi santri untuk terus belajar mengembangkan potensi yang dimilikinya dan mampu memahami nilai-nilai kemanusiaan, sekaligus menjadi insan yang patuh terhadap ajaran agama, berakhlak baik dan beradab dalam kesehariannya. Penanaman karakter di pesantren dimulai dengan pembiasaan-pembiasaan berbagai hal positif di setiap harinya. Salah satu pendidikan karakter di pesantren adalah melalui kegiatan ro'an .
Ro’an merupakan kegiatan di pesantren yang sudah menjadi tradisi, dimana para santri melakukan kerja bakti bersama, seperti membersihkan lingkungan pesantren, atau menata kembali barang-barang di pesantren agar tampak indah dan rapi, atau hal-hal lainnya. Ro’an biasa dilakukan oleh seluruh santri, baik santri putra maupun santri putri. Umumnya, kegiatan ro’an dilakukan saat para santri libur sekolah, yakni antara hari jum’at atau ahad (minggu). Setiap pesantren, biasanya memiliki kebijakan masing-masing terkait penetapan jadwal ro’an dan pembagian tugas untuk seluruh santrinya.
Di era digitalisasi ini, apa yang terlihat dalam foto atau video tentu tidak boleh diartikan sembarangan, sebab masih multitafsir. Seperti halnya ro’an, foto atau video singkat dari kegiatan ro’an tentu akan menimbulkan banyak artian. Sebagian orang melihat ro’an sebagai kegiatan yang positif dan biasa dilakukan oleh para santri di pesantren. Namun sebagian lainnya, dapat berpandangan negatif, “Lah mondok bukannya buat belajar ya?” “Kok bisa santri disuruh nyapu, ngepel, kok malah ga ngaji?” “Kiai gamau manggil pekerja, bisanya manfaatin santri saja!”. Pandangan-pandangan seperti itu tentu muncul akibat penilaian yang sepotong-potong dan hanya melihat dari satu sisi saja, sehingga sulit untuk membedakan antara keikhlasan dan tuntutan, atau antara pengabdian dan paksaan.
Santri yang sedang ro’an, bukan sedang dimanfaatkan tapi sedang diajarkan. Diajarkan nilai-nilai kebersihan, keikhlasan, kerjasama, kedisiplinan dan keindahan. Agar nantinya, selepas mereka lulus dari pesantren, mereka tetap terbiasa hidup bersih, ikhlas dalam perbuatan, mampu bekerja sama, disiplin terhadap apa yang dijalani dan pandai merawat sesuatu hal atau barang yang mereka miliki. Tanpa iming-iming upah, mereka akan senantiasa mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan yang sudah mereka pelajari selama di pesantren.
Dewasa ini, masyarakat kian cepat menilai dari apa yang mereka lihat. Tidak semua kegiatan santri di pesantren bisa dipahami hanya dengan melihat foto atau menonton video singkat. Jauh dari itu, banyak tujuan yang tidak bisa seutuhnya tergambar. Ro’an bukanlah suatu pekerjaan kasar yang dapat menurunkan martabat seorang santri. Dengan adanya kegiatan ro’an, maka akan tercipta tempat tinggal yang bersih dan rapi, sehingga para santri dapat belajar dengan suasana yang nyaman. Melalui kegiatan ro’an pula, tanpa disadari telah terbangun karakter dalam pribadi para santri berupa karakter sosial, yakni mereka akan mempunyai jiwa sosial yang tinggi, peka terhadap lingkungannya, serta peduli antar sesama.
Masyhur di kalangan pesantren, ro'an berasal dari kata tabarrukan , yang kemudian lebih dikenal dengan singkatan rukan (dibaca ro'an ). Bagi santri, ro'an bukan merupakan eksploitasi, tapi jauh dari itu para santri sejatinya juga sedang diberikan edukasi, tentang apa itu makna pengabdian ( khidmah ), kerja sama ( ta'awun ) dan keikhlasan. Mengingat kegiatan ro'an bukan hanya kegiatan yang bersifat aktivitas fisik saja, melainkan juga terkandung pendidikan karakter religius yang bisa digapai.
Makna pengabdian tergambar oleh panggilan hati setiap santri untuk ro'an dengan sukarela dan tanpa pamrih, dengan harapan akan menjadi pribadi yang lebih disiplin dan peka terhadap lingkungan tempat tinggalnya sehari-hari. Dengan begitu, rasa cinta dan rasa memiliki ( sense of owning ) akan tumbuh dalam pribadi masing-masing santri. Kerja sama ditunjukkan dengan semangat dan kesolidan para santri untuk saling membantu dan mengutamakan kepentingan bersama, yang mana mereka terbagi dalam beberapa kelompok sesuai dengan misi masing-masing. Keikhlasan tercermin dalam tingkah laku para santri saat sedang melakukan ro'an , yakni mereka menyelesaikannya tanpa diiringi amarah atau tangisan, justru yang terlihat adalah senyuman dan acap kali senda gurau secara bersahutan.
Pesantren merupakan wujud nyata benteng moral bangsa. Dari pesantrenlah, lahir para ulama, para pemimpin, para cendikiawan, serta pribadi-pribadi hebat yang berkecimpung dalam beragam profesi. Peristiwa di Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, menjadi momentum untuk merefleksikan diri, bahwa setiap kegiatan yang baik tetap harus dilakukan dengan aspek keselamatan jiwa ( hifz al-nafs ). Dengan demikian, semangat ro'an yang sudah menjadi tradisi di pesantren, tidak perlu dihapuskan, tetapi dapat terus dilestarikan dengan tanpa mengesampingkan aspek keselamatan. Wallahu a'lam bisshawab .[]
Al Faqir Ahmad Arif Masdar Hilmy, SH, M.Ag.
