Relasi Dinasti Fathimiyah Hingga Ayyubiyah Dalam Membina Al-Azhar

Membicarakan Al-Azhar maka tidak akan luput dari peran dinasti atau kekhalifahan Fathimiyah. Pada masa itu, Dinasti Fathimiyah merupakan salah satu imperium besar dalam sejarah peradaban Islam. Pada awalnya, Fathimiyah merupakan dinasti kecil yang melepaskan diri dari kekuasaan dan daulah Abbasiyah.

Awal Mula Berdirinya Al Azhar

Penamaan “Al-Azhar” ini diambil dari laqob manusia mulia, yakni putri Rasulullah , dan istri dari sayyidina Ali karamallahu wajhah yang kemudian dijadikan nama sebuah masjid yang terkemuka di Mesir (972 – 975 M). Pada tahun kurang lebih 950-an Masehi, pada zaman Dinasti Fathimiyah, Al-Azhar dibangun dan didirikan yang awalnya hanya sebatas masjid di daerah Kairo, Mesir. Fathimiyah yang keluar dari barisan Abbasiyyah mulai membangun dan memfungsikan Al-Azhar lebih dari sebagai tempat peribadatan, melainkan Al-Azhar juga mulai difungsikan sebagai wadah dan sarana untuk dunia pendidikan.

Al-Azhar Pada Masa Dinasti Fathimiyah

Dinasti Fathimiyyah membawa Al-Azhar terjun ke dunia pendidikan bukan hanya di kalangan lokal, melainkan juga di kancah internasional. Namun pada mulanya, Al-Azhar dibangun atas dasar ideologi Syi'ah.

Fathimiyah menorehkan prestasi besar bagi sejarah peradaban Islam, khususnya dibidang keilmuan, yakni dengan adanya universitas Al-Azhar yang berbasis Islam. Hal itu menjadikan Dinasti Fathimiyah menjadi negara Islam terbesar pada masanya di kawasan Mediterania. Popularitas dan pamor Fathimiyah semakin tinggi hingga ketika dinasti Fathimiyah dipimmpin oleh Abu Manshur Nizar Al Aziz (975 - 996 M) ia mampu mancapai puncak kejayaannya.

Abu Manshur Nizar Al-Aziz, ia merupakan khalifah Fathimiyah kelima dan khalifah pertama yang memulai kepemerintahan di Mesir. Kemajuan peradaban pada Dinasti Fathimiyah dapat dilihat dari beberapa aspek, seperti bidang sosial, aspek toleransi terhadap non-Muslim, ekonomi dan juga arsitekturnya.

Sistem Pendidikan Al-Azhar Dinasti Fathimiyah

Sistem pendidikan Al-Azhar kala itu, masih menggunakan sistem klasik yang umum. Sistem pendidikan dan pengajaran di Al-Azhar memahami mejadi empat. Pertama, adalah kelas umum, yakni kelas yang diperuntukkan bagi kaum muslimin yang datang ke Al-Azhar untuk mempelajari al-Qur'an dan metode tafsirnya.

Kedua, kelas untuk kaum muslimin yang ingin mempelajari atau mengkaji permasalahan keislaman bersama para tutor atau pembimbing.  Ketiga,  adalah kelas Darul Hikam.  Dalam kelas ini, mata kuliah diberikan oleh para muballigh. Selain dari kalangan pengajar, kelas  Darul Hikam  juga diperuntukkan bagi masyarakat umum saat itu. Dan kelas yang terakhir adalah kelas non formal. Kelas ini di sediakan bagi kalangan muslimah yang juga ingin menimba ilmu Islam. Pembentukan sistem ini juga merupakan prestasi Abu Manshur Nizar Al Aziz (975 – 996 M) yang di torehkan dalam papan sejarah.

Dinasti Al-Azhar Ayyubiyah

Konon, Dinasti Fathimiyah pada masa kepemerintahan Al-Hakim (996 – 1021 M) dengan dasar pendidikan akidah aliran Islam Syi'ahnya, banyak mengeluarkan berbagai kebijakan yang sangat kontroversial, terutama dalam bidang agama. Sehingga terus memberikan dampak kemerosotan dan kemunduran yang signifikan pasca pemerintahan Az-Zahir (1021-1035M), dan musnah pada masa Al-Adid (1160-1171M). Dinasti Fathimiyah yang terus mengalami kemerosotan, juga memberikan dampak negatif terhadap sistem pembelajaran di Al Azhar.

Pada tahun 1040-1070 M, daerah-daerah yang dulu berhasil dikuasai dan mengendalikan Fathimiyah, seketika daerah tersebut mulai melakukan perlawanan dan pemberontakan kepada pemerintah. Pemberontakan tersebut terus menjadi-jadi hingga wilayah kekuasaan Fathimiyah menyempit meliputi hanya di Mesir.           

Seiring berjalannya pemberontakan, tidak lama setelah itu di Mesir pun mulai terjadi pemberontakan dan berakibat timbulnya pemerintahan pada Dinasti Fathimiyah (1160-an). Pergolakan api perlawanan masyarakat Mesir pada pemerintah Fathimiyah ini, memberikan kesempatan kepada dinasti Abbasiyyah untuk mengambil alih Mesir beserta Al-Azhar.

Kira-kira pada tahun 1160-1169 M penguasa Zengid Nur Ad Din dengan jendralnya, yakni Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil menaklukan Mesir. Dan membentuk dinasti Al-Ayyubi Sunni di bawah kekuasaan dan kehalifahan dinasti Abbasiyyah. Dengan demikian pamor dan popularitas dinasti Abasiyah kembali naik dan Al-Azhar pun berpindah tangan di bawah kepemerintahan Ayyubiyah.

Al-Azhar di bawah kendali Dinasti Ayyubiyah memberikan dampak positif bagi lembaga pendidikan yang terkenal dan terkemuka ini. Namun karena pasca penghapusan Al-Azhar dari tangan Dinasti Fathimiyah, pada saat itu kegiatan belajar mengajar sempat dihentikan (576 H atau 1171 M). Vacum pendidikan tersebut berjalan lama sampai pada masa dinasti Mamalik (Mamluk). Walhasil, Al-Azhar baru kembali difungsikan sebagai lembaga pendidikan seperti semula pada tahun 665 H.

Ketika Shalahuddin Al-Ayyubi memimpin kepemerintahan, akidah Syi'ah yang sudah mengakar di Al-Azhar perlahan mulai dihapus dan diberantahkan secara keseluruhan. Sehingga Madzhab yang dipelajari di Al-Azhar di ubah menjadi madzhab Islam Sunni.

Alhasil. Dalam sejarah keilmuan, universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, dikenal sebagai lembaga pendidikan tertua di dunia. Lahirnya Al-Azhar merupakan bukti bahwa peradaban Islam dalam bidang keilmuan sesungguhnya lebih maju dibandingkan bangsa Barat. Sebab, Barat baru membangun lembaga pendidikan pasca berdirinya Al-Azhar.

 

Penyunting: Muhammad Idris

Komentar

[ Kembali ]

`