
Metode Dakwah Kiai Hamid: Membina Bukan Menghina
Suatu hari Kiai Hamid pernah datangi seorang tamu pria dari luar daerah. Namun ada satu hal dari pria tadi yang membuat kiai sedikit tidak senang. “Cincinnya bagus, bolehkah saya ambil?” tanya kiai, “Oh iya, silahkan yai” jawab si tamu sambil melepas cincin emas yang ia pakai untuk diberikan kepada kiai Hamid. ”Sekarang cincin ini saya titipkan ke sampean, tolong berikan kepada istri sampean” pesan kiai Hamid. Kemudian dia kembalikan lagi kepada si tamu, “Masukkan ke dalam saku sampean!” tambah kiai. Si tamu pun memasukkan cincin tadi ke dalam sakunya, tetapi begitu keluar dari ndalem kiai Hamid, si tamu kemudian memakai cincin itu lagi. Ketika kiai bertemu dengan si tamu di mushola, pandangan kiai Hamid lagi-lagi mengutarakan ke-tangan si tamu, “lho kok dipakai lagi?” tanya kiai. “Dilepas saja, masukkan ke saku, nanti berikan kepada istri sampean.”
Sungguh lembut cara kiai Hamid dalam berdakwah. Memang dia tidak senang ketika melihat tamu itu memakai cincin emas, sebab dalam syariat Islam seorang laki-laki haram menggunakan perhiasan yang berbahan emas. Namun, beliau tidak langsung mengatakan haram di depan pria tersebut, dan juga tidak langsung membuangnya. Coba saja kalau kiai Hamid langsung membuang cincin tersebut di hadapan pria itu, pasti akan menimbulkan kerugian, atau mengatakan kalau yang dia lakukan adalah perbuatan haram, bisa saja pria itu bengkok dan sakit hati.
Menurut Imam Al-Ghazali, amar ma'ruf nahi mungkar terbagi menjadi tahap empat: pertama , dengan pengertian, lalu dengan nasehat, kemudian dengan larangan keras menggunakan kata-kata, dan yang terakhir dengan pencegahan melalui tindakan.
Kiai hamid dalam dakwahnya lebih sering menggunakan dua pendekatan pertama, terutama dengan menasihati. Cara beliau menasihati dengan sungguh-sungguh halus. Pendekatannya bersifat persuasif tanpa membuat yang diingatkan menjadi tertekan.
Allah juga berpesan agar hambanya menyampaikan sebuah dakwah dengan lemah lembut, sebagaimana yang tertera dalam firman-Nya:
فب ما رحمة من الله لنت لهم، ولوكنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك..........الاية
“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bermaksud keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekelilingmu.” (QS Ali Imran : 159)
Seperti yang dilakukan Kiai Hamid, hal mengagumkan juga dilakukan doa cucu Rasulullah ﷺ , Hasan dan Husein. Ketika kakak beradik ini menemukan seorang lelaki tua yang salah dalam melakukan wudhu, mereka tidak langsung menegur lelaki tua itu. Namun, mereka sepakat untuk mengingatkan lelaki tua itu dengan cara yang halus. lalu sang kakak berkata, “Wahai kakek, maukah kamu menilai siapa di antara kami yang wudhu'nya paling benar?” Hasan meminta lelaki tua itu agar menjadi juri untuk mereka.
Lelaki tua itu pun menerima tawaran dari Hasan. Maka berwudhu'lah kakak beradik itu, tetapi salah satu dari mereka sengaja melakukannya dengan cara yang salah. Si lelaki tua akhirnya menyadari kalau dia melakukan kesalahan dalam wudhu'nya tadi, dan sayyidina Hasan Husein mencoba untuk mengingatkannya. Kemudian lelaki itu berkata, “Terimakasih telah memberi tahu saya cara berwudhu' yang benar. Dan alangkah indahnya cara kalian berdua menasihatiku.”
Dari kisah di atas, kita bisa melihat betapa indahnya cara sayyidina Hasan dan Husein dalam menasihati. Dakwah ala beliau berdua merupakan dakwah yang sangat lembut, tidak kasar, dan juga tidak menggurui.
Sesuatu yang sederhana jika dikemas dengan baik dan menarik, tentu akan menarik simpati orang yang melihatnya. Demikian juga dengan berdakwah, terlihat sederhana namun haruslah disampaikan dengan cara yang baik, agar orang lain semakin tertarik untuk mendengarkan apa yang kita sampaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh segala sesuatu yang dihias dengan kelembutan akan tampak indah, sebaliknya tanpa kelembutan segala sesuatu akan terlihat buruk.” (HR.Muslim).
Retorika berdakwah menampilkan keindahan Islam melalui akhlak yang baik. Berdakwah ibarat menghidangkan suatu makanan, seberapapun lezatnya suatu makanan, jika cara menghidangkannya tidak baik maka orang pun enggan. Bayangkan, jika seseorang menghidangkan makanan yang lezat, namun ia menjadikan piringnya dari sandal. Kendatipun sandal tersebut baru dibeli dari toko dan belum pernah dipakai, orang tak akan sudi tidak mau. Masalahnya, ada pada cara penyampaian yang tidak baik.
Begitu pula dengan suatu makanan yang sederhana, ditata dengan baik di piring-piring, lalu dihidangkan dengan senyuman. Orang akan menyantapnya dengan kebahagiaan. Demikianlah retorika dakwah yang mengajarkan Islam.
Dakwah yang terkesan menjustifikasi dan menyorot-nyalahkan objek dakwah, biasanya tidak akan menghasilkan hasil. Malah objek dakwah akan siku dan badan.
Penyunting: Muhammad Yusuf
