Makna Hakiki Sebuah Kekayaan

قال الشافعيّ: من قال: إنه جمع بين حبّ الدنيا وحبّ خالقها فقد كذب

“Imam syafi’i berkata mengatakan barang siapa yang menyatakan bahwa dirinya telah mengumpulkan antara cinta dunia dan cinta kepada Allah , maka sebenarnya dia telah berdusta”.

Hampir semua orang sependapat bahwa seseorang bisa dikatakan sebagai orang kaya adalah dengan menggunakan parameter materi. Ketika dia memiliki harta yang berlebih, memiliki rumah mewah, mobil mewah, dan berbagai hal-hal mewah lainnya. Semua orang sepakat bahwa dia termasuk orang kaya. Ini adalah parameter yang keliru. Ukuran materi sebenarnya adalah ukuran yang semu, kapan pun bisa hilang begitu saja. Lenyap tak bersisa.

Namun di sinilah letak kejanggalannya, ketika hal ini kita bawa pada ranah tasawuf atau dunia sufistik. Dalam ranah sufistik, “dunia” justru menjadi sebuah cobaan, bahkan sebuah aib. Namun bukan berarti tasawuf tidak membolehkan seseorang untuk memiliki harta. Namun orang-orang sufi hanya menjadikan dunia sebagai perantara untuk ibadah dan hidup di dunia, mereka tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidup.

Meskipun ketika kita nalar menggunakan akal sehat, sangat masuk akal ketika seseorang memiliki hal yang lebih dalam hidupnya, dia akan dengan sangat mudah memberi hal kelebihan yang dia miliki untuk orang lain. Karena buat apa hal yang lebih? Dia telah memiliki hal yang dibutuhkan. Karena apa? Mereka telah terlanjur cinta begitu dalam kepada Sang Kekasih Sejatinya. Begitu besar cinta itu hingga tak tersisa lagi untuk hal lain – dunia. Namun, perlu dicatat baik-baik. Hal itu bukan berarti mereka “tidak boleh” memiliki harta benda. Mereka tetap memiliki harta. Bahkan boleh jadi lebih banyak daripada kebanyakan orang. Hanya saja dia tidak memiliki perasaan apa pun atas harta di sekitarnya. Tidak bersisa lagi rasa cinta di hatinya, semua hanya untuk Allah .

Namun apa yang terjadi di lapangan justru tidak demikian. Malahan banyak diantara mereka ingin terlihat kaya di depan orang lain. Walaupun itu dengan cara yang kurang tepat. Hutang misalnya. Begitulah cara hidup seseorang yang menggunakan parameter yang salah. Memaksakan diri untuk mencapai derajat kaya – yang menggunakan parameter ini. Seseorang berhutang kepada bank untuk membeli sepeda motor atau mobil, melunasinya dengan cara menyicil setiap bulan – hanya agar terlihat sebagai orang yang kaya di mata orang-orang di sekitarnya.  Dalam kasus ini sebenarnya mereka adalah orang yang memikirkan kebutuhannya untuk esok. Hanya sedikit berbeda dengan orang miskin. Orang miskin memikirkan hartanya untuk makan esok hari, sedangkan mereka – orang-orang kaya memikirkan hartanya untuk membayar angsuran mobilnya.

Contoh sempurna untuk orang yang benar-benar memiliki harta yang berlebih pun juga merasa dirinya memiliki harta berlebih adalah pemilik maqalah di atas, imam madzhab kita. Imam As-Syafi’i dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali menuturkan sebuah kisah tentang beliau: suatu ketika cambuk milik Imam As-Syafi’i tidak sengaja jatuh dari genggamannya, ada salah seseorang yang mengambilkan cambuk beliau kemudian menyerahkannya kepada beliau. Setelah menerima cambuk itu, beliau memberinya lima puluh dinar. Cerita ini ada ketika Imam Al-Ghazali membahas tentang kezuhudan Imam As-Syafi’i.

Setelah menuturkan cerita itu, Imam Al-Ghazali menambahkan : kedermawanan Imam As-Syafi’i lebih masyhur daripada matahari. Beliau memiliki kemampuan itu. Kemampuan seorang hamba yang mampu mencukupi kehidupannya hanya dengan memberi orang lain.

Inilah arti sebenarnya dari sebuah kekayaan. Yaitu ketika seseorang tidak lagi khawatir untuk kehilangan hartanya. Ketika seseorang memberi dengan begitu leluasa tanpa takut hartanya akan habis dengan itu. Sebagaimana sabda Rasulullah :

ليس الغنى عن كثرة العلرض ولكنّ الغنى غنى النفس

“tidaklah kaya dengan banyaknya harta, tetapi kaya adalah kaya dengan hati”

Sifat seperti ini juga dapat kita temukan dalam pribadi seorang Kiai Abdul Hamid Pasuruan. Dalam buku keteladanan beliau yang ditulis oleh Kiai Hamid bin Kiai Ahmad Qusyairi sungguh begitu betebaran cerita beliau yang dengan begitu ringan memberi kepada siapa pun. Tidak terhitung riwayat-riwayat cerita dari orang-orang yang pernah bertemu langsung dengan beliau yang mengaku diberi sesuatu ketika mereka sowan kepada beliau. Mereka tidak akan pulang dengan tangan kosong setelah mereka sowan kepada Kiai Hamid.

Mengapa mereka mampu bersikap begitu ringan terhadap dunia, seolah tak terikat oleh gemerlapnya? Karena ketika cinta seorang hamba telah berlabuh sepenuhnya kepada Sang Khalik, maka cintanya kepada dunia pun perlahan surut. Hatinya tak lagi tertawan oleh fatamorgana duniawi. Ia melihat dunia bukan sebagai tujuan, melainkan sekadar kendaraan dalam perjalanan menuju-Nya.

Anehnya, justru ketika dunia dijauhi, ia datang mendekat. Ketika tidak diinginkan, ia menawarkan diri. Sebagaimana bayangan yang tak bisa disentuh saat dikejar, namun selalu mengikuti saat dibelakangi. Maka siapa yang berpaling dari dunia karena Allah , dunia akan mengejarnya dalam keadaan tunduk. Inilah rahasia para kekasih Allah : mereka tak mencari dunia, tetapi dunia yang mencari mereka.

Sungguh, inilah buah dari cinta yang lurus — cinta yang hanya tertuju kepada Allah . Cinta yang memerdekakan jiwa, menenangkan hati, dan mengangkat derajat seorang hamba dari sekadar pecinta dunia menjadi pencinta Tuhan.[]

Komentar

[ Kembali ]

`