Jasa Dinasti Ottoman Dalam Penyebaran Keilmuan Islam

Dinasti Ottoman atau yang lebih dikenal dengan dinasti Utsmaniyah, adalah sebuah salah satu dari bagian sejarah dinasti Islam terbesar, khususnya ini bersaing dengan dua kerajaan Islam besar di zamannya, Syafawi di Persia (Iran) dan Moghul di India.

Dinasti Ottoman berpusat di Turki, berjaya pada sekitar tahun 1300 – 1922. Penggunaan kata Ottoman atau Utsmaniyah ini didasarkan pada nama pendiri dinasti ini, yaitu Utsman, Seorang putra Atrogol salah satu kepala suku Kayi di Asia kecil yang datang ke Turki dan mendapatkan kepercayaan dari penguasa Salajikah, Alauddin Kaikobad, yang kemudian memercayai Utsman sebagai Panglima Perangnya. Jabatan Penguasa Salajikah ini kemudian beralih ke Utsman Pasca wafatnya Sultan Alauddin Kaikobad pada tahun 1300. Utsman mengambil alih kekuasaan dan sejak terbentuklah sebuah dinasti Ottoman, dinasti ini termasuk eksis selama 7 abad dan dipimpin oleh 36 Sultan.

misalnya Dinasti yang lain, Ottoman atau Utsmaniyah ini memiliki kecemerlangannya tersendiri, termasuk dalam bidang khidmahnya hingga Ilmu pendidikan, Dinasti Ottoman bahkan memiliki peran yang besar dalam luasnya ilmu pendidikan, hal ini terjadi pada zaman kepemimpinan Sultan Muhammad II atau yang acap kali dikenal dengan Gelar Al Fatih , dimana ia berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453, yang kemudian dirubah nama menjadi Istanbul.

Pembebasan Konstantinopel ini, setidaknya memiliki 3 pelajaran penting yang dapat diambil, yakni:

1. Terpenuhinya tugas sejarah bagi umat Islam dalam pengembangan wilayah Islam ke Persia dan Romawi Timur.

2. Berakhirnya abad pertengahan yang gelap dan mulainya zaman kesadaran bagi bangsa Barat, selain masuknya ilmu pengetahuan, kekalahan itu membangunkan bangsa barat untuk mengejar ketertinggalan selama ini, dan melahirkan pola pikir baru yang menyebabkan lepasnya barat dari kungkungan gereja dan muncullah supremasi Barat dalam hal ilmu pengetahuan.

3. Dengan dikuasainya Konstantinopel oleh Islam, yang selama ini menjadi gerbang Eropa dan jalur perdagangan Timur dan Barat, nasib Barat bergantung sepenuhnya kepada kerajaan Ottoman.

Ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, publikasi, penerjemahan, agama, hukum, dan ekonomi perdagangan berkembang pesat pada masa kekuasaan Dinasti Ottoman, tidak hanya ilmu pendidikan agama yang berkembang melainkan segala macam keilmuan yang memberi manfaat besar pada tatanan kehidupan, diantara yang berkembang pesat adalah ilmu ilmu terapan yang berhubungan dengan kemiliteran, seperti ilmu kemiliteran, ilmu maritim, pembuatan mesin dan meriam.

Sebelum abad lembaga pendidikan modern yang ada hanya sebatas madrasah, tetapi pasca kepemerintahan Dinasti Ottoman yaitu pada masa Sultan Mahmud II, mulai didirikan sekolah sekolah modern, diantaranya Makteb-I Ma'arif (Sekolah Pengetahuan Umum), Makteb-I Ulum-u Edebiye Tibbiye-I (Sekolah Sastra), sekolah samping militer dan sekolah teknik Sultan Mahmud II juga mendirikan Sekolah Kesehatan begitu juga sekolah Darul Ulum-Hikemiye dan Mekteb-I Tibbiye-I Sahane yang merupakan gabungan dari sekolah kedokteran dan sekolah penegakan. Disisi lain Sultan Mahmud II memasukkan ilmu-ilmu umum kepada sekolah-sekolah tradisional yang sudah ada, selain itu yang paling menonjol yaitu mengirim para siswa pilihan untuk belajar ke Eropa, sekembalinya mereka membawa sumbangsih besar pada perkembangan Islam, di antara mereka yang masyhur adalah: Zia Golkap (1875-1924), Yusuf Akcura (1876-1933), Taufik Fikret (1867-1915) dan Abdulloh Jewdat (1869-1932).

Perkembangan pendidikan yang semakin pesat melahirkan Dinasti Ottoman pada puncaknya, sehingga dapat menjadi negara pertama yang memiliki kitab peraturan-undangan negara yang mencakup segala hal peraturan negara dan hukum agama yang kemudian disebut dengan Qonun Utsmani .

Sudah menjadi sunnatullah dimana ada awal disitu juga ada akhir, sebesar apapun pengaruh dan kekuatan Dinasti Ottoman, tetap juga menghadapi masa spesialnya, tepatnya setelah wafatnya Sultan Sulaiman al-Qanuni, dimana kemudian dinasti ini dipimpin oleh raja-raja yang cenderung lemah, dan berakhir berakhirnya pada masa pemimpin terakhir mereka yaitu Sultan Abdul Majid II dimana hak kesultanannya dimodifikasikan Majelis oleh Agung pada tahun 1922, yang diprakarsai oleh Mushtofa Kemal dan kemudian kemerdekaan Turki pada 29 Oktober 1923, Turki menjadi negara merdeka dan berakhirlah kekuasaan Dinasti Ottoman.

 

Redaktur: M. Syukron Zidni

Komentar

[ Kembali ]

`